Selasa, 19 Maret 2013

BELAJAR ORANG DEWASA


BELAJAR ORANG DEWASA
Oleh : Dita Maya Winandarum (Pendidikan Luar Sekolah FIP UNY)

Orang dewasa pada dasarnya memang sudah berbeda dengan anak – anak. Cara mereka belajarpun berbeda. Anak – anak belum memiliki konse diri yang matang, mereka masih mengandalkan orang lain dalam mengambil keputusan. Anak – anak belajar karena mereka merasa belajar merupakan tuntutan bagi mereka. Anak – anak mdalam beajarnya masih terpaku pada apa yang mereka dapat saja dan mereka lebih mengarah pada pelajaran yang mereka dapat di persekolahan saja.
Berbeda dengan orag dewasa, mereka sudah memiliki konsep diri ingin dihargai dan menghargai orang lain. Dalam belajarnya orang dewasa lebih didasarkan pada kebutuhan mereka. Mereka akan belajar jika mereka merasa butuh. Belajar pada orang dewasa disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Orang dewasa sudah berperan aktif dalam kepentingan sosial. Dalam menjalani kehidupan sehari – hari peran sosial orang dewasa sudah sangat dibutuhkan. Dalam pembelajaran orang dewasa pengalaman juga sangat berperan penting. Pengalaman merupakan salah satu sumber belajar orang dewasa. Dari pengalaman orang dewasa belajar. Belajar melalui hal yang mereka lakukan merupakan salah satu sumber elajar orang dewasa. Melalui melakukan mereka akan dapat mengambil pelajaran atau nilainya.
Menurut Lindeman, mengidentifikasi beberapa asumsi pembelajaran orang dewasa yang dijadikan teori belajar orang dewasa, yaitu: (http://bine5.wordpress.com/pod/teori-belajar-orang-dewasa/)
1.      Pembelajar orang dewasa termotivasi belajar karena kebutuhan dan minat belajar akan memberikan kepuasan
2.      Orientasi belajar orang dewasa berpusat pada kehidupan, sehingga unit pembelajarannya didasarkan pada kehidupan nyata
3.      Pengalaman sebagai sumber terkaya bagi pembelajar orang dewasa, sehingga metode pembelajaran adalah analisa pengalaman
4.      Pembelajaran orang dewasa mempunyai kebutuhan yang mendalam untuk mengarahkan diri sendiri (self directed learning), sehingga peran guru sebagai instruktur.

5.      Perbedaan diantara pembelajar orang dewasa semakin meningkat dengan bertambahnya usia, oleh karena itu pendidikan orang dewasa harus memberi pilihan dalam hal perbedaan gaya belajar, waktu, tempat dan kecepatan belajar.

Pendidikan orang dewasa menurut saya lebih mengacu pada konsep pembelajaran “Student Centered Learning” seperti yang diusulkan oleh Carl R Rogers, dimana inti dari pembeajaran ini diantaranya : (http://blogs.unpad.ac.id/aderusliana/?p=3)
1.      kita tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya bisa memfasilitasi belajarnya.
2.      Seseorang akan belajar secara signifikan hanya pada hal – hal yang dapat memperkuat/menumbuhkan “self”nya.
3.      Manusia tidak bisa belajar kalau berada di bawah tekanan.
4.      Pendidikan akan membelajarkan peserta didik secara signifikan bila tidak ada tekanan terhadap peserta didik, dan adanya perbedaan persepsi/pendapat difasilitasi/diakomodir.
Sehingga pada pendidikan orang dewasa pendidik hanya berlaku sebagai fasilitator. Bukan seperti pada pendidikan di persekolahan formal dimana secara penuh pendidik merupakan pusat belajar dari peserta didik. Namun pada pendidikan orang dewasa justru peserta didik/warga belajar merupakan pusat dari pembelajaran. Pendidikan diajalankan secara demokratis. Warga belajar/peserta didik berhak mengutarakan pendapat mereka secara bebas. Dengan demikian mereka akan merasa lebih dihargai, merekapun juga menerapkan konsep saling menghargai antar sesama warga belajar.
Orientasi belajar orang dewasa dimana mereka belajar karena mereka butuh. Sehingga pembelajaran orang dewasa juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari warga belajar serta kebutuhan mereka. Jika pembelajaran tidak disesuaikan dengan keadaan mereka maka kemungkinan mereka akan susah untuk diajak belajar karena mereka mersa tidak membutuhkan hal itu karena tidak sesuai denga mereka. Maka dari itu sebelum memberikan pembelajran pada orang dewasa leih baik melakukan identifikasi kebutuhan belajar dari warga belajar terlebih dahulu.
Terutama jika ingin memberikan pembelajaran di masyarakat yang mana kebutuhan dari masyarakat beraneka ragam. Kita harus bisa mengidentifikasi secara tepat apa yang dibutuhka oleh masyarakat sasaran tersebut.

Sumber Referensi