BELAJAR
ORANG DEWASA
Oleh
: Dita Maya Winandarum (Pendidikan Luar Sekolah FIP UNY)
Orang
dewasa pada dasarnya memang sudah berbeda dengan anak – anak. Cara mereka
belajarpun berbeda. Anak – anak belum memiliki konse diri yang matang, mereka
masih mengandalkan orang lain dalam mengambil keputusan. Anak – anak belajar
karena mereka merasa belajar merupakan tuntutan bagi mereka. Anak – anak mdalam
beajarnya masih terpaku pada apa yang mereka dapat saja dan mereka lebih
mengarah pada pelajaran yang mereka dapat di persekolahan saja.
Berbeda
dengan orag dewasa, mereka sudah memiliki konsep diri ingin dihargai dan
menghargai orang lain. Dalam belajarnya orang dewasa lebih didasarkan pada
kebutuhan mereka. Mereka akan belajar jika mereka merasa butuh. Belajar pada
orang dewasa disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Orang dewasa sudah berperan
aktif dalam kepentingan sosial. Dalam menjalani kehidupan sehari – hari peran
sosial orang dewasa sudah sangat dibutuhkan. Dalam pembelajaran orang dewasa
pengalaman juga sangat berperan penting. Pengalaman merupakan salah satu sumber
belajar orang dewasa. Dari pengalaman orang dewasa belajar. Belajar melalui hal
yang mereka lakukan merupakan salah satu sumber elajar orang dewasa. Melalui
melakukan mereka akan dapat mengambil pelajaran atau nilainya.
Menurut
Lindeman,
mengidentifikasi beberapa asumsi pembelajaran orang dewasa yang dijadikan teori
belajar orang dewasa, yaitu: (http://bine5.wordpress.com/pod/teori-belajar-orang-dewasa/)
1.
Pembelajar orang dewasa termotivasi belajar karena
kebutuhan dan minat belajar akan memberikan kepuasan
2.
Orientasi belajar orang dewasa berpusat pada
kehidupan, sehingga unit pembelajarannya didasarkan pada kehidupan nyata
3.
Pengalaman sebagai sumber terkaya bagi pembelajar
orang dewasa, sehingga metode pembelajaran adalah analisa pengalaman
4.
Pembelajaran orang dewasa mempunyai kebutuhan yang
mendalam untuk mengarahkan diri sendiri (self directed learning),
sehingga peran guru sebagai instruktur.
5.
Perbedaan diantara pembelajar orang dewasa semakin
meningkat dengan bertambahnya usia, oleh karena itu pendidikan orang dewasa
harus memberi pilihan dalam hal perbedaan gaya belajar, waktu, tempat dan
kecepatan belajar.
Pendidikan
orang dewasa menurut saya lebih mengacu pada konsep pembelajaran “Student Centered Learning” seperti yang
diusulkan oleh Carl R Rogers, dimana inti dari pembeajaran ini diantaranya : (http://blogs.unpad.ac.id/aderusliana/?p=3)
1.
kita tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya
bisa memfasilitasi belajarnya.
2.
Seseorang akan belajar secara signifikan hanya pada
hal – hal yang dapat memperkuat/menumbuhkan “self”nya.
3.
Manusia tidak bisa belajar kalau berada di bawah
tekanan.
4.
Pendidikan akan membelajarkan peserta didik secara
signifikan bila tidak ada tekanan terhadap peserta didik, dan adanya perbedaan
persepsi/pendapat difasilitasi/diakomodir.
Sehingga
pada pendidikan orang dewasa pendidik hanya berlaku sebagai fasilitator. Bukan
seperti pada pendidikan di persekolahan formal dimana secara penuh pendidik
merupakan pusat belajar dari peserta didik. Namun pada pendidikan orang dewasa
justru peserta didik/warga belajar merupakan pusat dari pembelajaran.
Pendidikan diajalankan secara demokratis. Warga belajar/peserta didik berhak
mengutarakan pendapat mereka secara bebas. Dengan demikian mereka akan merasa
lebih dihargai, merekapun juga menerapkan konsep saling menghargai antar sesama
warga belajar.
Orientasi
belajar orang dewasa dimana mereka belajar karena mereka butuh. Sehingga
pembelajaran orang dewasa juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari
warga belajar serta kebutuhan mereka. Jika pembelajaran tidak disesuaikan
dengan keadaan mereka maka kemungkinan mereka akan susah untuk diajak belajar
karena mereka mersa tidak membutuhkan hal itu karena tidak sesuai denga mereka.
Maka dari itu sebelum memberikan pembelajran pada orang dewasa leih baik
melakukan identifikasi kebutuhan belajar dari warga belajar terlebih dahulu.
Terutama
jika ingin memberikan pembelajaran di masyarakat yang mana kebutuhan dari
masyarakat beraneka ragam. Kita harus bisa mengidentifikasi secara tepat apa
yang dibutuhka oleh masyarakat sasaran tersebut.
Sumber
Referensi